Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam.
“Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”
Tapi,rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”
maka
Maka, tak ada lagi yang tersisa tentangmu
ketika mengingatmu pun kusudah tak bisa
Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.~ Mahatma Ghandi
Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.
Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,†Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?â€. Jawab titis air mata kedua tu,†Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.â€
Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.
Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai†darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.
Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.
Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !
Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka
Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.
Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.
Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.
Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan. (Dale Carnagie)
AKU adalah untaian
Aku adalah huruf puisi
Yang terbaca melafalkan kehidupan
Aku adalah kata puisi
Yang bermakna menelusuri suara nurani
Aku adalah kalimat puisi
Yang berdiri tegak diatas buana
Aku adalah bahasa puisi
Yang terbang menjelajahi semesta
Aku adalah untaian puisi
Yang terucap dalam doa suci
BOLEH JADI
Satu-satu bintang itu berputar
Bergerak kearah bumi melingkar
Esok lagi ia bersinar
Tetap pada posisi semula
Boleh jadi aku tetap memandangnya
Kadang bayangan bulan jatuh dipelataran
Dan bersatu dengan rimbunnya
Bayangan pepohonan
Boleh jadi ia akan menghilang begitu saja
Mungkin juga tidak berbekas
Seperti perihnya luka yang kurasa
BEGITU INDAH
apa benar Tuhan mengirimmu untuk menjadi kekasihku? menyertai
langkah kakiku mengarungi arus nasib ke muara tuju. apa benar kau kasih
tercintaku? jika memang kaulah perempuan itu, akan kurapatkan hatiku ke
hatimu. tangan saling genggam. kaki sama langkah. bersamamu kusalin
cerita ke dalam lagu nan syahdu.
apa benar Tuhan menciptamu sebagai pendampingku? akan kuhambakan
diriku. kukuduskan namamu. kusujudkan keningku. kunapaskan namamu.
kau yang begitu indah. perempuan anggun pengusir gundah. pengobat
sepi penghibur lara. menarilah dalam jingkat perlahan. satu langkah
satu langkah. lentik jarimu gemulai menjelma sayap burung enggang. aku
mengikutimu sebagai naga langit terbang. seperti dalam kisah leluhur
kita sebelum dayak terbelah.
apa benar Tuhan membelahmu dari satu jiwaku? karena kulihat wajahmu
terlihat wajahku. kulihat diriku terlihat dirimu. dari jiwaku yang
satu, kita bikin jiwa beribu.
MEDITASI CINTA
dalam hening
kulihat sosok perempuan datang sebagai bayang saat entah aku berada di
negeri mana saat entah pada waktu kapan semua muncul tiba-tiba seperti
udara yang kuhirup seperti nadi yang berdenyut seperti darah yang
mengalir seperti itulah kau muncul sebagai bayang menyentuh tubuh
menjamah angan menyandingku dalam peraduan
dalam gelap
aku dapat membedakan mana engkau mana gelap mana sesuatu yang tak dapat
kutatap sesuatu yang tak dapat kudengar sesuatu yang hanya dapat
kutangkap melalui batin yang paling lubuk yang paling dasar yang paling
bawah sadar
hening dan gelap
semuanya lengkap semuanya sempurna segalanya senyap tapi hatiku tak
pengap oleh meditasi cinta pada sosok perempuan yang datang kehadapanku
memelukku menjamah inginku yang dahulu belum sempat kugenapkan
jika engkau sosok perempuan terkasih yang muncul hanya untuk
menggodaku maka enyahlah sebelum api cinta berkobar dari dalam jantung
hati hanguskan sekujur tubuh ini tetapi jika engkau benar sosok
perempuan tercinta yang muncul demi menyatu jiwa denganku akan
kuhamparkan sajadah panjang kutadaruskan rasamu kuzikirkan namamu
sepanjang hayatku sepanjang usiaku sepanjang kakiku melangkah dari awal
kelahiran sampai suatu ketika ajal datang merenggut jiwa
(Salatiga,18-Juli-2007)
Demi gadis yang didewasakan badai dan luka
Di matamu terlipat peta: aku menitinya berbekal obor rindu, sebungkus rokok kesunyian dan sekompas rasi bintang.
Menyusuri garisgaris luka yang pernah ditorehkan cinta pada
sekujurmu. Mengamati guratanguratan pedih yang sempat dititipkan
sejarah pada halaman depan lembaran hidupmu.
Meski gelap dan gerak angin tak menentu, masih coba kujaga nyala
api ini di tanganku: biar tak padam mimpi, agar tak pekat ruang hati.
Impian atasmu begitu saja terbangun:
tentang ladang bunga, sepasang kupukupu yang berkejaran, atau tentang bulan di mana tatapan rindu kita bertemu.
tentang puingpuing berserak yang kemudian kita susun bersamasama.
juga tentang pelangi yang kita pisahkan warnanya
menjadi pita-pita untuk hiasan rambutmu
aku datang bersama deru angin
atau lewat udara yang menyesakkan dadamu
aku hadir bersama terbitnya mentari
atau lewat sinarnya yang menghangatkan gairahmu
demi kau,
gadis yang didewasakan badai dan luka
jangan pernah ragu
karena tapak kaki kita adalah satu
Siapa yang Membangun Sorga Di bawah Telapak Kakimu?
Aku berusaha membaca peta pada deru suaramu, pada
penggalan-penggalan kisahmu. Kucium dupa dan anyir darah: begitu sakral
dan asing. Adalah sebuah upacara pengorbanan, entah kepada siapa:
kutangkap teriakanmu yang pecah di ujung tenggorokan, berat, lirih.
Kutemukan sehunus pisau sejarah masih basah bersimbah darah
disampingmu. Kemudian kusaksikan untaian pelangi menjelma tali
warnawarni mengikatmu: dalam bungkus kafan, dalam lahat penghukuman.
ceritamu tentang segelas anggur dan setetes airmata
atau mungkin segelas airmata dan setetes anggur?
entah apa kau menamainya
yang jelas masih tersisa sebuah tanya:
dimanakah kau letakkan segayung darah dan setimba keringatmu?
;bukankah hidup adalah mengeja peluh, memaknai alir darah,
menterjemahkan airmata dan baru mendulang bercawan-cawan anggur
kemudian?
Aku teringat sepatah dongeng:
tentang sesosok bulan yang selalu menutup diri dengan
rahasia-rahasia. Bulan angkuh yang hanya sedikit waktu untuk kita
nikmati purnamanya. Sehingga yang sering kita lihat hanyalah malam yang
kental putus asa, atau sebilah bulan sabit yang siap mencabik-cabik
siapa saja: begitu tajam.
Selayaknya roman-roman yang berakhir bahagia
akupun membaca sekisah yang mengingatkanku padamu:
Tentang sepasang kekasih yang bercengkrama diatas bulan sabit,
saling bersulang anggur, sambil menunjuk bintang-bintang yang paling
indah: Adalah kau dengan seseorang;
Seseorang yang membantu melunasi hutang yang pernah kau pinjam pada hidup.
Seseorang yang menguapkan airmatamu, menjadikannya awan doa sekaligus mengirimkan derai hujan penuh cinta.
Seseorang yang siap membangun sorga dibawah telapak kakimu: kelak untuk anak-anaknya..
kamar mandi
baknya kering oleh kemarau,
pintunya, selalu seperti itu,
tak bisa tertutup penuh
dulu, di sana, setiap pagi
aku bernyanyi atau berpuisi
tentang perempuan bergeligi rapi
kini setiap masuk kamar mandi
aku ingin menangis, sedih,
perempuan itu telah pergi
aku jadi jarang mandi
sajak mati lampu
empat tembok yang berdiri mengepung
seperti ditumpahi tinta atau cat hitam
lampu pijar matahari kecil itu,
yang lebih senang kau sebut bintang,
tak lagi kulihat bergantung di langit kamar
inilah yang kuminta di setiap doa
kamar gelap dan kau bisa kubayangkan
datang dan telentang di sisiku
mengeluhkan haidmu telat seminggu,
sedikit perih di sekitar payudaramu,
atau sekedar memintaku mengelus rambut
atau punggungmu.
inilah yang kutunggu di setiap malam
alam kelam dan aku bisa menangis
sambil mengulang-ulang namamu
tanpa seorangpun melihat airmataku
di saat yang sama, biar kutebak,
apa yang sedang kau lakukan,
kau menyalakan sebatang lilin
dan membaca ulang puisi
yang kuselip di saku jaket biru tuamu,
sesaat sebelum tangan kita saling melepas,
sambil sesekali menggigit bibir
dan mendongak menahan tangis
atau kau sedang khusyu meminta
agar lelampu segara kembali bercahaya
sebab kau tak mampu menahan kenangan
yang melayang-layang ingin membawamu pulang.
Di bawah Langit Jendela Tua, tak Kuucapkan Lagi Namamu
Di bawah langit jendela tua, tak kuucapkan lagi namamu
Kita telah lelah berkabung. Pertemuan dengan dambaanmu
Hanyalah ucapan selamat malam yang biasa
Di atas semua ini dunia tiada pernah berganti selain gelap
yang menyahut di langit doa.
Aku tidak lebih suatu sudut paling temaram pada lipatan sunyimu
Elang yang tersesat. Dan kau
Cakrawala yang runtuh pada permulaan pagi
Ketika jejak musim bertarung dengan laut.
Kau yang telah menyimpan matahari dalam degupmu padaku :
‘Senja telah menunggu di balik pintu kamar kita
sebelum pagi menukik embun yang gelisah.’
Dan cerita ini telah berabad-abad kita lipat di sebuah rak buku
dekat meja makan. Di bawah langit jendela tua,
sungguh, tak kuucapkan lagi namamu barang sejenak
PERNAH ADA
Hembusan hari ini, kemarin, pernah ada.
Suasana gejolak dada, pernah ada
Musik , lagu itu juga melengkapi, pernah ada
Apakah aku dimasa lalu ?
Di Malioboro
Saya menemukanmu, tersenyum, acuh tak acuh di sisi Benteng Vriedenburg
Siapa namamu, kataku, dan kau bilang: Kenapa kau tanyakan itu.
Malam mulai diabaikan waktu. Di luar, trotoar tertinggal.
Deret gedung bergadang dan lampu tugur sepanjang malam
seperti jaga untuk seorang baginda yang sebentar lagi akan mati.
Mataram, katamu, Mataram…
Ingatan-ingatan pun bepercikan –sekilas terang kemudian hilang– seakan pijar di kedai tukang las.
Saya coba pertautkan kembali potongan-potongan waktu yang terputus dari landas.
Tapi tak ada yang akan bisa diterangkan, rasanya
Di atas bintang-bintang mabuk oleh belerang,
kepundan seperti sebuah radang,
dan bulan dihirup hilang kembali oleh Merapi
Trauma, kau bilang (mungkin juga, "trakhoma?") membutakan kita
Dan
esok los-los pasar akan menyebarkan lagi warna permainan kanak dari
kayu: boneka-boneka pengantin merah-kuning dan rumah-rumah harapan
dalam lilin.
Siapa namamu, tanyaku. Aku tak punya ingatan untuk itu, sahutmu.
kebebasanku
Hiduplah kalian tanpa aku,
Tanpa kolor
Inilah pesanku yang terakhir
Setelah kemunculan perdanaku bersama Superman
Aku ingin bebas sekarang… istirahat